Friday, May 22, 2015

Ini Prosedur Booking Artis : 20 juta - 200 juta

Ini Prosedur Booking Artis : 20 juta - 200 juta 


Ini Prosedur Booking Artis 

Ini Prosedur Booking Artis 

Ini Prosedur Booking Artis

Ini Prosedur Booking Artis  


Ini Nama-nama Artis dan Tarif 'Booking' Binaan Mucikari RA.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penangkapan artis dan model berinisial AA yang tengah menjalani pelayanan seks di sebuah hotel berbintang 5 di Jakarta pada awal pekan Mei lalu bikin heboh.

Penangkapan itu juga mengungkap jaringan seks kelas wahid yang menyuguhkan model dan artis. Kebanyakan artis dan model itu baru mulai terkenal. Sempat mencuat pula bahwa AA yang disebut Polres Jakarta Selatan usai menggerebek adalah artis dan model baru bernama Amel Alvi.

Namun tudingan itu buru-buru dibantah Amel Alvi melalui akun twitter dan instagram pribadinya.

Mucikarinya, RA alias Obbie, punya cara khusus dalam menjalani bisnisnya sehingga sempat sulit ditembus.

Berikut daftar artis dan model yang masuk dalam jaringan PSK eksekutif bertarif puluhan sampai ratusan juta rupiah dari penelusuran dari berbagai sumber:

1. TB bertarif Rp 200 juta
2. JD bertarif Rp 150 juta
3. RF bertarif Rp 60 juta
4. CS bertarif Rp 60 juta
5. MT bertarif Rp 55 juta
6. KA bertarif Rp 55 juta
7. SB bertarif Rp 55 juta
8. CW bertarif Rp 50 juta
9. PUA bertarif Rp 45 juta
10. NM bertarif Rp 40 juta
11. CT bertarif Rp 40 juta
12. UJ bertarif Rp 35 juta
13. LM bertarif Rp 35 juta
14. DL bertarif Rp 30 juta
15. BS bertarif Rp 30 juta
16. AA bertarif Rp 25 juta
17. FNP bertarif Rp 20 juta

Ini Prosedur Booking Artis

1. Pesan Lewat BBM atau WhatsApp
2. Mucikari meminta uang tanda jadi 30 persen dari tarif booking artis
3. Mucikari menentukan hotel lalu buat janji hari dan waktu pertemuan di hotel
4. Pelunasan dilakukan saat artis sudah dipertemukan pelanggan.
5. Harga yang disepakati hanya untuk pelayanan singkat (short time) maksimal 3 jam
6. Selama melayani pelanggan artis tidak mengenakan kondom

source: https://allandaveblog.blogspot.com/

Tuesday, May 5, 2015

Alasan Para Model Cantik Dunia Kecanduan Olahraga Tinju

Victoria's Secret Adriana Lima yang menonton dengan pelatih tinjunya Dino Spencer

Alasan Para Model Cantik Dunia Kecanduan Olahraga Tinju

Adriana Lima, salah satu model Victoria's Secret yang sangat menggemari olahraga tinju
Adriana Lima, salah satu model Victoria's Secret yang sangat menggemari olahraga tinju


Jakarta, CNN Indonesia -- Para ahli kesehatan sepakat, bertinju memiliki manfaat bagi tubuh dan pikiran. Mengapa seseorang mengenakan sarung tangan Everlast dan melemparkan pukulan ke samsak?

Tinju, di luar stereotipe yang mengikutinya, bukan cuma permainan kaum lelaki. Karena Minggu lalu dunia diramaikan oleh pertarungan tinju di Las Vegas, antara Floyd Mayweather dan Manny Pacquiao, banyak perempuan penggemar olahraga tinju juga turut menyaksikan.

Beberapa bahkan menyaksikan secara langsung, seperti halnya model Victoria's Secret Adriana Lima yang menonton dengan pelatih tinjunya Dino Spencer. Lima, sudah jatuh cinta dengan tinju sejak tiga belas tahun lalu, setelah dia mencoba banyak olahraga lain, seperti dilansir laman Time.

“Olahraga ini sangat menguatkan karena Anda belajar betapa bertenaga dan kuat Anda,” kata Lima.

Ini adalah olahraga terbaik yang pernah ada karena seseorang bisa benar-benar robek tetapi tidak terlalu besar.”

Model-model dunia, Karlie Kloss, Gigi Hadid, Chanel Iman, dan Joan Smalls, semua ikut melepaskan pukulan tinju dengan para pelatih mereka. Gisele Bundchen yang tampil dalam video kampanye Under Armour bertajuk I Will What I Want menunjukkan wajah garangnya saat mengempaskan pukulan ke karung tinju.

Jordan Metzl, dokter olahraga di Rumah Sakit New York berkata, satu kali kelas tinju bisa membakar sekitar seribu kalori.

“Tinju membangun kekuatan penuh tubuh yang sangat membantu, baik laki-laki maupun perempuan, terutama perempuan yang ingin melakukan olahraga berbeda,” katanya. Misalnya, risiko perempuan mengalami robeknya ligamen ACL adalah enam kali lebih besar dari laki-laki melakukan olahraga yang sama. Ini disebabkan karena sudut antara pinggul dan lutut yang lebih lebar pada perempuan.

Tinju dapat membantu penyeimbang (counter balance) dengan cara membangun kekuatan yang melindungi lutut. Manfaat lainnya adalah membangun massa tulang, karena perempuan memiliki risiko osteoporosis lebih besar dan masalah kepadatan tulang daripada laki-laki.

Olahraga dengan debaran berulang dapat membangun massa tulang, kata Metzl. Jonathan Fader, psikolog olahraga, yang bekerja dengan atlet profesional, mengatakan, “Ini sangat membantu perempuan, olahraga ini mengatasi kesulitan apapun yang mereka hadapi,” katanya.

Bahkan di saat kalah pun tetap ada manfaat. “Anda memiliki ketahanan untuk mengatasi kekalahan. Karena, banyak hal dari apapun yang kita kejar dalam kehidupan adalah tentang bagaimana kita kembali.”

Perempuan juga bisa mendapatkan beberapa manfaat dari olahraga bertinju. Daniel Glazer, pendiri pusat kebugaran tinju Shadobox di New York mengatakan, dirinya menyadari perempuan jauh lebih setia dan berdedikasi untuk kebugaran sebagai bagian kehidupan sehari-hari mereka.

“Perempuan memiliki begitu banyak gairah dari cara mereka berlatih, dan tinju adalah olahraga yang sangat bergairah,” katanya. Lagipula, olahraga ini juga menyenangkan. “Sangat menyenangkan untuk merasakan kekuatan Anda sendiri,” kata pelatih para selebriti Lacey Stone.

“Saya sudah punya dua anak, dan usia saya hampir 34 tahun. Saya percaya berkat tinju, saya masih seorang model,” kata Lima. Dia bercerita ibu dari pelatihnya, berusia 70 tahun, yang pergi ke pusat kebugaran tinju melakukan latihan yang sama dengan Lima. “Tinju, olahraga ini sempurna,” ucapnya


Monday, May 4, 2015

Proton Jadi Mobnas? Hendropriyono: Ini Urusan Perusahaan Tak Terkait Negara

Proton Jadi Mobnas? Hendropriyono: Ini Urusan Perusahaan Tak Terkait Negara

Proton Jadi Mobnas? Hendropriyono: Ini Urusan Perusahaan Tak Terkait Negara

Jakarta - Setelah lama tak terdengar lagi soal kabar pengembangan mobil nasional (mobnas) yang melibatkan Proton, kini Hendropriyono selaku pemilik PT Adiperkasa Citra Lestari, angkat bicara. Ia menegaskan proyek kerjasama pengembangan industri otomotif dengan Proton masih tahap studi kelayakan dan tak ada kaitannya dengan negara.

"Itu nanti urusan perusahaan, enggak ada kaitannya sama publik dan negara, ini milik saya sendiri," kata A.M. Hendropriyono saat Konferensi Internasional tentang Terorisme dan ISIS yang diselenggarakan oleh Hendropriyono Strategic Consulting di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2015).

Hendropriyono menegaskan soal alasannya mau mengembangkan industri otomotif di dalam negeri agar pasar dalam negeri tak terus 'dijajah'. Ia berharap produksi mobilnya ini bisa segera terealisasi.

"Saya tahu karena musuh kita asing, kita mau merebut ini, kalau saya banyak komentar nanti dipotong sama mereka," katanya.

Wacana mobnas sempat jadi buah bibir pasca MoU antara Proton Holdings BHD dengan PT Adiperkasa Citra Lestari milik Hendropriyono. Peristiwa MoU itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak, Pemimpin Proton Tun Dr Mahathir Mohamad.

Kerjasama tersebut ditandatangani oleh Chief Executive Officer Proton Holdings Bhd Datuk Abdul Harith Abdullah dan CEO Adiperkasa Citra Lestari AM Hendropriyono di Proton Centre of Exellence, Jumat, 6 Februari 2015.


Sumber: detik.com (23 Maret 2015)

Sunday, May 3, 2015

Setelah Proton, Hendropriyono Dekati Esemka Garap Mobnas




PT Adiperkasa Citra Lestari
PT Adiperkasa Citra Lestari


Jakarta - Perusahaan pimpinan AM Hendropriyono, PT Adiperkasa Citra Lestari dikabarkan tengah meminang Esemka. PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) mengakui saat ini tengah melakukan pembicaraan serius dengan perusahaan Hendropriyono dan perusahaan lainnya baik dari dalam dan luar negeri untuk menggarap proyek mobil nasional. Sebelumnya, PT Adiperkasa yang didirikan oleh mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono diketahui telah meneken nota kesepahaman kerjasama dengan Proton Holdings Bhd.

“Iya kami memang tengah melakukan pembicaraan dengan beberapa perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri. Jumlahnya banyak, salah satunya perusahaan itu (PT Adiperkasa),” tutur Humas PT SMK Dwi Budhi Martono, saat dihubungi detikOto, Selasa (21/4/2015).

Budi mengaku tak hafal jumlah dan nama perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam kerjasama ini. Namun, salah satunya adalah BAIC Automotive Group dari Tiongkok.

“Jumlahnya banyak, saya enggak hafal. Dan saat ini pembicaraan masih terus terjadi,” ucapnya.

Kerja sama dengan beberapa perusahaan tersebut sifatnya bermacam-macam. Mulai dari bantuan teknis pembuatan suku cadang, pemasaran, hingga layanan purna jual.

“Soal nama perusahaan baru yang merupakan hasil kerjasama itu, sampai saat ini juga belum ditetapkan. Semuanya masih dalam tahap pembicaraan,” kata dia.

Menurutnya, semua yang terlibat dalam kerjasama ini berharap proses pembicaraan ini telah rampung pada tahun ini. “Ya secepatnya, kita harapkan sudah selesai. Kalau bisa tahun ini,” ujar pria yang akrab disapa Toto itu.

Sementara, menyinggung nota kesepahaman yang telah diteken PT Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton Bhd beberapa waktu lalu, Toto mengaku tidak mengetahui persis apakah juga masuk ke dalam konsorsium proyek ini.

Dia menyebut sejauh yang dia ketahui, kerja sama antara PT Adiperkasa Citra Lestari dengan Proton Holdings Berhard Malaysia baru sebatas melakukan riset dan pengembangan. Lebih dari itu, kerja sama itu dievaluasi setiap enam bulan sejak disepakati.

Sedangkan, lanjut dia, pihaknya sudah memproduksi mobil secara massal. Jenis atau varian mobil yang dibuat pun beragam tergantung pemesanan. “Yang sudah berjalan produksinya itu sekitar 150 unit,” imbuhnya.

Sumber: detikOto (21 April 2015)

Esemka: Gandeng Adiperkasa Bukan Karena Jokowi



Esemka: Gandeng Adiperkasa Bukan Karena Jokowi
Oh sama sekali bukan (karena faktor Jokowi). Kerja sama ini terbuka, dan Esemka terbuka kepada siapa saja. Dan kerja sama mewujudkan mobil nasional itu memerlukan banyak mitra


Jakarta - Esemka dikabarkan berkolaborasi dengan perusahaan milik AM Hendropriyono PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL) dan sejumlah perusahaan dari dalam dan luar negeri untuk menggarap mobil nasional. Meski begitu kerja sama dengan ACL bukan berarti karena ada dorongan dari Presiden Joko Widodo.

"Oh sama sekali bukan (karena faktor Jokowi). Kerja sama ini terbuka, dan Esemka terbuka kepada siapa saja. Dan kerja sama mewujudkan mobil nasional itu memerlukan banyak mitra," tutur Humas PT Solo Manufaktur Kreasi Dwi Budhi Martono, saat dihubungi detikOto, Selasa (21/4/2015).
Pria yang akrab disapa Toto itu mengakui, pihaknya memang melakukan kerja sama dengan PT Adiperkasa Citra Lestari untuk membentuk perusahaan baru yang akan mengerjakan mobil nasional. Selain dengan perusahaan yang salah satu pendirinya AM Hendropriyono, itu Esemka juga menjalin kerjasama dengan pabrikan lain baik dari dalam maupun luar negeri.

Sementara, pada 6 Febuari lalu, PT Adiperkasa Citra Lestari telah menekan nota kesepahaman (MoU) dengan pabrikan mobil nasional, Proton Holdings Bhd, Malaysia. Kerjasama itu dalam riset dan pengembangan. Kerjasama tersebut juga akan dievaluasi dalam enam bulan.

Penandatanganan MoU itu dilakukan Hendropriyono dan petinggi Proton, serta disaksikan Presiden Jokowi. Namun dalam beberapa bulan, tiba-tiba saja, ACL menggandeng Esemka.

"Saya enggak tahu persis kerja sama itu, karena memang Esemka tidak terlibat di situ. Dan itu beda dengan kerja sama kami saat ini (dengan Adiperkasa dan perusahaan lain). Kabarnya sih untuk riset dan pengembangan dan dievaluasi enam bulan," paparnya.

Sedangkan soal latar belakang perusahaan yang didirikan Hendropriyono yang bukan pabrikan otomotif, Toto menyebut tidak mempermasalahkan. "Karena dalam kerjasama ini yang kami butuhkan bukan hanya perusahaan di bidang otomotif saja, karena selain teknis juga ada pemasaran dan layanan purna jual," ucapnya.

Toto menyebut, pihaknya selama ini telah melakukan produksi massal mobil berbagai jenis atau varian. Bahkan saat ini tak kurang dari 150 unit jenis atau varian yang tengah dikerjakan.

Sumber: detikOto (21 April 2015)

"Mobil Kita Bukan Mobnas, Tapi Mobil Made in RI"

"Mobil Kita Bukan Mobnas, Tapi Mobil Made in RI"

"Mobil Kita Bukan Mobnas, Tapi Mobil Made in RI"
"Mobil Kita Bukan Mobnas, Tapi Mobil Made in RI"


Jakarta - Meski tak menjawab secara tegas, pendiri PT Adiperkasa Citra Lestari, Hendropriyono secara tersirat tak menampik kabar pihaknya telah menggandeng PT Esemka untuk menggarap mobil nasional. Namun, mantan Kepala Badan Intelejen Negara itu menolak mobil itu disebut sebagai mobil nasional, tetapi mobil yang dibuat di Indonesia.


"Sudah beberapa kali dibilang, itu bukan Mobnas (mobil nasional). Itu salah paham saja. Dikira kita seperti Proton (mobnas) bagi Malaysia. Mobil yang akan kita bangun adalah made in Indonesia, titik," tutur AM Hendropriyono dalam pesan singkatnya.

Sebelumnya, di lain kesempatan, Humas PT Solo Manufaktur Kreasi Dwi Budhi Martono mengakui pihaknya tengah melakukan pembicaraan intensif dalam bekerjasama dengan PT Adiperkasa yang didirikan Hendro. Namun, selain dengan perusahaan itu, ada sejumlah perusahaan yang dilibatkan.

Alasannya, dalam proyek penggarapan mobil nasional dibutuhkan banyak mitra dan tidak hanya dalam hal teknis pembuatan komponen dan perakitan mobil.

"Karena dalam proyek ini kita membutuhkan banyak mitra, dan tidak hanya untuk teknis produksi saja, tetapi juga pemasaran, after sales service dan lain-lain. Jumlahnya banyak, saya enggak hafal. Itu dari dalam dan luar negeri," paparnya.

Sebelumnya, PT Adiperkasa Citra Lestari telah menandatangani nota kersepahaman (MoU) dengan Proton Holdings Bhd, Malaysia yang diwakili Chief Executive Officer Proton Holdings Bhd Datuk Abdul Harith Abdullah pada 6 Februari lalu. Penandatangan MoU itu juga disaksikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Negeri Jiran itu, Datuk Seri Najib Tun Razak. Kerja sama itu, disebutkan akan dievaluasi setelah enam bulan. (dto)

Sumber: medanbisnisdaily.com

Esemka Ajukan Syarat PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK)


Esemka Ajukan Syarat PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK)
Esemka Ajukan Syarat PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK)

Jakarta - PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) sebagai produsen mobil Esemka menyatakan pernah melakukan pertemuan dengan AM Hendropriyono, selaku pemilik perusahaan otomotif PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL). Sebelumnya diketahui, PT ACL telah menjalin kerja sama dengan Proton Holdings Bhd.

Direktur Marketing dan Komunikasi Publik PT SMK, Sabar Budi, Kamis 23 April 2015, mengatakan pertemuan antara direksi Esemka dengan Hendropriyono dilakukan sekitar bulan lalu. Pertemuan tersebut, secara garis besar membahas soal mobil Esemka dan mobil nasional.

"Ya, pertemuan itu memang membahas untuk mengembangkan bersama mobil Esemka. Tentunya, kami memiliki bargaining jika kerja sama terjalin, nama merek tetap Esemka," kata dia.

Lebih lanjut, Sabar mengungkapkan bahwa dalam kerja sama tersebut, pihaknya juga mengajukan syarat bahwa format kerja sama itu tidak bisa melakukan akuisisi Esemka. Format kerja sama tersebut, harus bisa disepakati secara bersama.

"Kami tidak ingin adanya akuisisi Esemka, serta penggantian nama merek Esemka. Kerja sama dengan Esemka harus sesuai dengan visi dan misi Esemka," tegasnya.

Sumber: Viva.co.id (23 April 2015)

Ketika Keluarga Astra Berebut Menara Telkom (Mitratel) April 2015

 

1430384458771033884
Sumber: Pertemuan Tertutup Maruarar Sirait dan JK di Istana Negara (sumber : dokumen pribadi)

 

Ketika Keluarga Astra Berebut Menara Telkom (Mitratel)

Ketika Presiden Jokowi tegas mengatakan eksekusi mati napi narkoba jangan diintervensi, itu sudah betul. Tapi ketika Presiden Jokowi seolah menjadikan realisasi eksekusi mati sebagai bukti kedaulatan negara, jelas itu adalah pencitraan. Agar semua sadar, kedaulatan negara RI bukan hanya didasarkan pada eksekusi mati terpidana nan bebas intervensi asing.
Sudahkah RI berdaulat atas emas Freeport?
Itu pertanyaan yang akan kita jawab di waktu yang lain.
Hari ini kita akan membahas soal sengketa panas tukar guling saham Mitratel. Pemerhati politik, ekonomi dan telekomunikasi, mestinya sudah akrab mendengar tukar guling atau swap Mitratel. Tapi saya yakin, sedikit yang menyadari bahwa perebutan saham Mitratel ini adalah bentuk lain kompetisi keluarga eks Astra International.
Mereka yang sudah dewasa, baligh atau setidaknya sudah memahami bacaan di koran-koran tahun 1990-an, pasti mengenal soal kisruh Astra dan Bank Summa. Generasi sekarang mungkin sudah melupakan kisruh Astra dan Bank Summa.
Astra International sudah menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia pada tahun 1990-an. Di era Orde Baru, peran swasta tidak bisa lepas sepenuhnya dari campur tangan pemerintah dan politik. Swasta yang tidak dekat dengan pusat politik, tidak bisa besar di era itu. Itulah kenapa lalu banyak orang mengeluarkan istilah kroni Cendana, meski sebenarnya tidak sesederhana itu. Tapi memang, grup Salim, grup Lippo, grup Djarum, grup Astra dan sebagainya, tak akan bisa menjadi raksasa tanpa ‘bantuan’ Cendana.
Seperti Telkom di masa kini, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia abad 21 ini juga tidak pernah lepas dari campur tangan politik. Kalau campur tangan pemerintah jelas ada, karena Telkom adalah BUMN.
Kembali ke Astra. Kebesaran Astra menjadikan siapa saja jebolan Astra menjadi aset Premium. Sebut saja, Wakil Presiden kita Jusuf Kalla. Keluarga Kalla mengawali bisnisnya dari memegang lisensi tunggal penjualan Toyota di Indonesia Timur. Anda bisa tanya sama bos dan mantan bos Astra di masa kini. Kalau anda tinggal di Indonesia Timur dan ingin buka showroom mobil via Astra, mustahil tanpa izin ke keluarga Kalla, hingga saat ini. Direktur Utama Astra International pun tak bisa intervensi. Semua bos Astra hanya akan bilang : Sowan dulu ke pak JK, kalau ia approve, maka kita approve. Bermula dari Astra, kini pak JK memegang kunci kelangsungan Indonesia saat ini.
Bohong kalau ada yang bilang pak JK bukan tokoh kunci arah Indonesia Timur. Asal tahu saja, AS masih takut memerdekakan Papua karena pak JK masih hidup. Sejak jaman dahulu, Papua adalah bagian dari wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Secara adat, masyarakat Papua masih ingin berada di bawah Indonesia karena pak JK, sang Raja Indonesia Timur, masih hidup dan bergabung dengan Indonesia. Cerita akan lain jika suatu saat Pak JK wafat, Papua merdeka tinggal tunggu waktu diprovokasi.
Itu bicara Pak JK, salah satu jebolan premium dari Astra. Lalu ada Edward Soeryajaya, anak tertua pendiri Astra, William Soeryajaya. Edward Soeryajaya, seharusnya menjadi pewaris tahta Astra International. Tapi sayangnya, di puncak kejayaan Astra, Edward melakukan kesalahan fatal, setidaknya begitu kata orang-orang.
Edward Soeryajaya mendirikan Summa Financial di Hong Kong, yang kemudian mendirikan Bank Summa di Indonesia. Kalau pernah dengar Bank Indover di Belanda, itu hasil kerjasama Bank Indonesia dengan Bank Summa. Nah, banyak orang bilang Edward Soeryajaya melakukan banyak sekali aksi keuangan risiko tinggi melibatkan aset Astra dan pinjaman Bank Summa. Dampaknya, ketika terjadi gempa keuangan di Summa dan Astra, semua meleleh bersama.
Para bos Astra pun pecah kongsi akibat ‘kehancuran’ yang diakibatkan aksi keuangan risiko tinggi Edward Soeryajaya. William Soeryajaya, sang ayah masih berusaha membela Edward. Jusuf Kalla juga berada di sisi Edward. Rini Soemarno, Direktur Keuangan Astra yang menjadi orang kepercayaan William Soeryajaya, juga membela Edward Soeryajaya. Bahkan jelang akhir kehancuran total Astra, Edward Soeryajaya mengangkat Rini Soemarno menjadi Direktur Keuangan Astra International.
Di kubu lawannya, ada Edwin Soeryajaya yang merupakan adik Edward Soeryajaya. Edwin menuding, semua kisruh Astra adalah hasil aksi keuangan risiko tinggi yang dilakukan Edward Soeryajaya. Edwin mengajukan diri mengambil alih Astra, namun saat itu William masih berada di pihak Edward. Edwin tak sendiri. Di gerbong pendukung Edwin Soeryajaya, ada Teddy Rahmat dan Subianto, dua jebolan premium dari Astra lainnya.
Di akhir cerita, William akhirnya berpihak pada kubu Edwin Soeryajaya bersama Teddy Rahmat dan Subianto. Perubahan dukungan William terjadi karena skema penyelamatan Astra yang ditawarkan Rini Soemarno dan Edward Soeryajaya gagal total. Astra diambil alih sepenuhnya oleh BPPN. JK, sebagai saudagar dan pedagang tulen, berakhir bersikap netral.
Jadi sudah paham kan peta pertarungan Astra International di masa silam. Di kubu Edward Soeryajaya, ada Rini Soemarno dan Jusuf Kalla. Di kubu Edwin Soeryajaya, ada Teddy Rahmat, Subianto dan pada akhirnya, William Soeryajaya.
Lantas, apa hubungannya kisruh Astra di masa silam dengan Telkom dan sengketa Swap Mitratel?
Jawabannya sederhana, pemainnya kurang lebih sama dengan peta kubu yang identik pula.
Telkom, kurang lebih berposisi sama dengan Astra, perusahaan terbesar dengan campur tangan politik tingkat tinggi. Mitratel merupakan anak usaha Telkom yang bertugas mengelola menara-menara telekomunikasi milik Telkom. Menara Telekomunikasi ini bukan BTS lho. BTS itu pemancarnya, sedangkan Menara itu bangunan menaranya. Dalam satu menara bisa berisi beberapa BTS.
Sejak 2012, keluarga eks Astra memang mengincar bisnis menara. Supaya lebih mudah saya jabarkan disini peta kepemilikan menara 3 operator terbesar, sebelum keluarga eks Astra bermain di area ini :
Telkom Group : 18.000 menara
-Mitratel : 4.000 menara
-Telkomsel : 14.000 menara
XL Group : 10.000 menara
Indosat Group : 8.000 menara
Pada tahun 2012, Tower Bersama (TBI) membeli 2.500 menara Indosat senilai US$ 406 juta. Harga 1 menara Indosat dibeli TBI kira-kira US$ 162.400. Dengan kurs Rp 13.000/US$, 1 menara Indosat dibeli TBI seharga Rp 2,1 miliar.
Sisa menara Indosat setelah 2.500 menara dibeli TBI adalah sebanyak 5.500 menara. TBI berpeluang membeli sisa 5.500 menara Indosat.
Pada tahun 2014, Solusi Tunas Pratama (STP) membeli 3.500 menara XL senilai US$ 460 juta. Harga 1 menara XL dibeli STP kira-kira US$ 131.428. Dengan kurs Rp 13.000/US$, 1 menara XL dibeli STP seharga Rp 1,7 miliar.
Sisa menara XL setelah 3.500 menara dibeli STP adalah sebanyak 6.500 menara. STP berpeluang membeli sisa 6.500 menara XL.
Nah, pada tahun 2014, Telkom juga membuka tender penjualan Mitratel yang mengelola 4.000 menara Telkom. Ada 4 pihak yang ikut serta dalam proses penawaran :
-Tower Bersama (TBI) milik Edwin Soeryajaya.
-Solusi Tunas Pratama (STP) miliak Patrick Waluyo, menantu Teddy Rahmat.
-Sarana Menara Nusantara (SMN), milik Djarum dan Salim bekerja sama dengan Edward Soeryajaya.
-Nusantara Infrastructure (NI) milik Jusuf Kalla dan Erwin Aksa.
Belakangan STP mundur dari penawaran Mitratel, karena STP menang tender pembelian 3.500 menara XL pada 1 Oktober 2014. Dan kalau masih ingat, Edwin Soeryajaya bersama Teddy Rahmat dan Subianto juga bersatu mengelola Adaro Indonesia, perusahaan batubara premium di Indonesia. Patrick Waluyo sebagai menantu Teddy Rahmat tidak mungkin berkompetisi dengan TBI soal Mitratel. Makanya STP mundur dari penawaran Mitratel.
Jadi, peta perebutan Mitratel tersisa 3 pemain, yakni TBI (Edwin Soeryajaya), SMN (Djarum, Salim, Edward Soeryajaya) dan NI (JK dan Erwin Aksa).
Nah, hasil akhir dari perebutan menara Mitratel dimenangkan oleh TBI (Edwin Soeryajaya). MoU antara Telkom dan TBI pun digelar pada 10 Oktober 2014.
Kenapa Telkom memenangkan TBI soal Mitratel?
Karena TBI menawarkan tukar guling saham, bukan menawarkan pembelian jual beli putus. SMN (Djarum, Salim, Edward Soeryajaya) dan NI (JK dan Erwin Aksa) menawarkan jual beli putus. Perbedaannya jelas, kalau Mitratel dilepas ke SMN atau NI, maka kepemilikan Mitratel sepenuhnya tidak lagi di tangan Telkom.
Lain cerita dengan mekanisme swap. Jadi, saat ini Mitratel 100% dimiliki oleh Telkom. Nah, setelah swap, Telkom akan memiliki 13,7% saham TBI, sedangkan TBI memiliki 100% saham Mitratel. Artinya, dengan mekanisme swap, Telkom tak hanya masih memiliki Mitratel, tetapi juga memiliki TBI.
TBI saat ini mengelola 11.000 menara, ditambah 4.000 menara Mitratel, total ada 15.000 menara. Jadi dengan kepemilikan Telkom di TBI sebanyak 13,7%, Telkom masih menguasai 2.055 menara.
Keuntungan bagi Telkom apa sih dari swap ini?
Pertanyaan ini juga bagus ditanyakan pada Indosat dan XL yang sudah lebih dulu melepas menaranya.
Sederhananya begini, tadinya perusahaan operator mengelola jaringan telekomunikasi dan infrastruktur menaranya. Artinya, Telkom, Indosat, XL, harus siapkan dana membangun menara, agar bisa memasang BTS (pemancar). Dampaknya, pemerataan pembangunan telekomunikasi jadi lebih lambat, karena operator harus investasi jaringan dan menara.
Lalu muncul solusi, pembangunan menara tidak dilakukan oleh operator, sehingga operator fokus investasi jaringan. Solusi ini dianggap tepat untuk mencapai percepatan pemerataan telekomunikasi di Indonesia. Itulah kenapa berbondong-bondong berdiri perusahaan pengelola menara. Lalu operator juga berbondong-bondong menjual menaranya.
Jadi, sebelum ada solusi pengelolaan terpisah menara telekomunikasi, operator harus menyiapkan dana untuk :
-Pembangunan jaringan.
-Operasional jaringan.
-Pembangunan menara.
-Operasional perawatan dan pengelolaan menara.
Setelah solusi pengelolaan menara secara terpisah muncul, operator jadi lebih hemat karena hanya fokus pada pembangunan jaringan dan operasional jaringan. Kebutuhan dana pembangunan menara dan operasional perawatan menara, diserahkan sepenuhnya oleh perusahaan pengelola menara.
Ilustrasinya, daripada harus membeli mobil operasional kantor sebanyak 100 unit, akan lebih hemat kalau menyewa saja. Itulah yang terjadi pada industri telekomunikasi terkait menara. Jadi yang bertugas membangun menara dan memikirkan biaya operasional dan perawatannya ya perusahaan pengelola menara. Operator hanya memikirkan biaya pembangunan dan operasional jaringan.
Nah, ada perbedaan antara yang terjadi pada Telkom dengan XL dan Indosat. XL dan Indosat menjual putus menaranya, sehingga XL dan Indosat masih harus mengeluarkan biaya sewa menara.
Untuk kasus Telkom berbeda. Berhubung Telkom masih memiliki 13,7% saham TBI, artinya Telkom menerima pemasukan dari TBI. Nah, pemasukan dari TBI ini yang dikonversi menjadi biaya sewa menara. Jadi dengan menggunakan mekanisme swap, Telkom tetap memiliki Mitratel dan tidak perlu bayar sewa.
Jadi secara kacamata bisnis, tidak benar kalau dikatakan Telkom dirugikan dari Swap Mitratel. Karena faktanya, Telkom masih memiliki Mitratel. Telkom juga memiliki TBI. Dan Telkom juga tidak perlu bayar sewa menara, karena pemasukan dari TBI akan dijadikan biaya sewa menara.
Dari sisi Telkom, tentunya akan terjadi penghematan besar-besaran. Selain tidak perlu lagi membangun menara, Telkom juga tidak perlu bayar sewa menara.
Lalu ada yang bilang harga swap TBI terhadap Mitratel terlalu rendah, dilihat dari mana?
Mari kita hitung. Mitratel mengelola 4.000 menara. Nilai transaksi swap Telkom dan Mitratel US$ 904 juta. Artinya, harga 1 menara Mitratel dihargai TBI sebesar US$ 226.000. Dengan kurs Rp 13.000/US$, harga 1 menara Mitratel dibanderol Rp 2,9 miliar.
Bandingkan dengan harga pembelian 1 menara Indosat oleh TBI senilai Rp 2,1 miliar. Bandingkan juga dengan harga pembelian 1 menara XL oleh STP senilai Rp 1,7 miliar.
Jadi kalau ada yang bilang swap Mitratel merugikan negara, merugikan dari mana? Dibeli di harga premium kok. Saya bukan bela Telkom soal swap Mitratel, tapi faktanya secara hitung-hitungan bisnis memang tidak dirugikan. Justru Telkom memilih TBI karena hanya TBI yang menawarkan mekanisme swap. Dengan Swap, Telkom jauh lebih hemat dari segi anggaran dan Telkom tak hanya masih memiliki Mitratel, tapi juga memiliki sebagian aset TBI.
Beda hasilnya kalau Telkom menjual pada SMN (Djarum, Salim, Edward Soeryajaya) dan NI (JK dan Erwin Aksa) yang menawarkan jual beli putus. Dengan jual beli putus, Telkom kehilangan kepemilikan sepenuhnya atas Mitratel dan masih harus mengeluarkan biaya sewa menara.
Tapi memang sulit menempatkan Telkom sepenuhnya dalam kacamata bisnis. Selalu ada politisasi bila bicara Telkom. Seperti kita lihat, usai kegagalan SMN dan NI yang kalah dalam tender penjualan Mitratel, kekuatan politik bergerak.
Edward Soeryajaya melihat peluang ikut menghajar Edwin Soeryajaya. Edward ‘membantu’ SMN milik grup Djarum dan Salim melalui tangan Rini Soemarno, orang kepercayaan Edward. Agendanya jelas, membatalkan Swap Telkom dan TBI, setidaknya selama 1 tahun. Dengan bergabungnya Edward Soeryajaya dalam kongsi SMN, diharapkan waktu 1 tahun cukup untuk menjadikan SMN sebesar TBI.
Faktanya, TBI dan STP adalah Emas, sedangkan SMN dan NI masih berskala Perunggu. Agar bisa bersaing dengan TBI dan STP di industri menara, SMN dan NI harus menghambat laju pertumbuhan TBI dan STP. Salah satu caranya, membatalkan swap Mitratel antara Telkom dan TBI.
Edward Soeryajaya mengerahkan Rini Soemarno dengan kekuatan penuh. Rini Soemarno mengerahkan Maruarar Sirait (Ara) dari PDIP untuk menggerakkan Serikat Karyawan Telkom, menggoyang Telkom dari dalam. Maruarar Sirait juga mengerahkan Hendarwan Supratikno di Komisi VI DPR untuk menyuarakan pembatalan swap Mitratel. Dalam hearing di DPR soal Mitratel, Rini Soemarno dan DPR kompak menyatakan tolak Swap Mitratel. Pergerakan Edward Soeryajaya untuk merebut Mitratel bekerja.
Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN merombak jajaran petinggi Telkom sebanyak 2 kali dalam waktu 4 bulan terakhir. Perombakan pertama petinggi Telkom terjadi pada 19 Desember 2014. Jagoannya Rini yakni Hendri Saparini (ekonom PDIP) dan Dolfie Othniel Frederic (politisi PDIP) masuk Komisaris Telkom.
Maruarar Sirait juga telah melobi JK di istana negara untuk bergabung menggoyang Telkom. Dalam rapat tertutup itu, hadir juga Sofyan Wanandi.
1430384458771033884
Sumber: Pertemuan Tertutup Maruarar Sirait dan JK di Istana Negara (sumber : dokumen pribadi)
Hasil dari lobi Maruarar Sirait terhadap JK, adalah ikut sertanya JK dalam pertarungan Mitratel. Sebagai bukti kerjasama, Taruna Merah Putih (gerbong Ara) menggelar acara bareng PMI pada 29 Maret 2015, dihadiri langsung oleh JK.
JK lalu berhasil menempatkan 2 orangnya di jajaran komisaris Telkom pada perombakan kedua yang dilakukan Rini Soemarno pada 17 April 2015. Semua juga tahu kalau Rhinaldi Firmansyah (mantan Dirut Telkom) adalah orangnya JK. Kini, Rhinaldi Firmansyah, pentolan dunia Telekomunikasi didaulat menjadi Komisaris Telkom. Masuk juga, Pamela Johana, Corporate PR Metro TV sekaligus Dewan Pakar Partai Nasdem dalam jajaran komisaris Telkom.
Partai Nasdem adalah partai yang mengusung JK dalam bursa Pilpres 2014. Jangan lupa, Djarum dan Surya Paloh juga baru saja mengadakan kerjasama bisnis strategis. Jangan lupa juga, Edward Soeryajaya adalah salah satu penyokong dana Jokowi – Ahok di Pilkada DKI 2012. Lalu Edward Soeryajaya juga penyokong dana Jokowi – JK di Pilpres 2014. Edward Soeryajaya tentu tahu balas budi atas dukungan JK padanya, ketika kisruh Astra dan Bank Summa di masa silam.
Jadi secara peta, Edward Soeryajaya telah menguasai : Kementerian BUMN, Komisi VI DPR RI dan Komisaris Telkom. Sementara JK juga berpartisipasi menempatkan 2 orangnya di : Komisaris Telkom.
Apa yang dimiliki Edwin Soeryajaya dan TBI?
Sandiaga Uno bergabung ke Gerindra. Semua juga tahu kalau Sandiaga Uno hanyalah proxy Edwin Soeryajaya. Mungkin Edwin berharap, Sandiaga Uno masuk Gerindra akan menciptakan kompetisi di Komisi VI DPR RI. Pada masa Pilpres 2014, Edwin Soeryajaya memang bertaruh untuk Koalisi Merah Putih, berseberangan dengan Edward Soeryajaya yang bertaruh pada Jokowi – JK.
Jadi kalau melihat peta kekuatan di atas, jelas Edward Soeryajaya lebih unggul, sedangkan Edwin Soeryajaya kalah posisi.
Kongsi Edward Soeryajaya bersama JK, Djarum dan Salim menguasai Kementerian BUMN, Komisi VI DPR, Komisaris Telkom dan Serikat Karyawan Telkom. Edwin Soeryajaya hanya berhasil menempatkan Sandiaga Uno di Gerindra dan tidak mengendalikan Komisi VI DPR.
Jika dahulu, Edwin Soeryajaya unggul melawan Edward Soeryajaya di kisruh Astra, akankah kali ini situasi berbalik? Yang jelas, saat ini terlihat jelas adanya konspirasi menggagalkan Swap Mitratel antara Telkom dan TBIG oleh kongsi Edward Soeryajaya.
Mari kita simak kelanjutan kisahnya.

Monday, April 27, 2015

DPR: Tak Apa-Apa Gandeng Proton, Asal...

DPR: Tak Apa-Apa Gandeng Proton, Asal…



Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI-P Aria Bima mengatakan tidak masalah jika Indonesia memang menggandeng Proton Holdings Bhd untuk mengembangkan mobil di Indonesia

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI-P Aria Bima mengatakan tidak masalah jika Indonesia memang menggandeng Proton Holdings Bhd untuk mengembangkan mobil di Indonesia


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI-P Aria Bima mengatakan tidak masalah jika Indonesia memang menggandeng Proton Holdings Bhd untuk mengembangkan mobil di Indonesia. Hal itu sah-sah saja, asal perusahaan pelat merah Malaysia itu mau mengalihkan teknologi mereka sepenuhnya.

"Asalkan Proton mau melakukan alih teknologi mesin dan transmisi 100 persen," kata Aria, Sabtu (7/2). Selain itu, menurut dia seluruh komponen yang digunakan harus konten lokal tidak hanya onderdil dan aksesoris, tapi juga mesin. Permodalan 100 persen juga seharunya milik Indonesia.

Hal tersebut menurutnya sulit dilakukan dengan perusahaan asal Jepang, Eropa, dan Korea Selatan. Mereka, kata Aria, hanya memberitahu cara membuat bodi mobil saja. Namun untuk pengembangan mesin tetap dirahasiakan.

Terkait apakah Proton bakal bersedia melakukan alih teknologi 100 persen, Aria memang mengaku belum tahu sampai ke sana. Namun jika itu tidak bisa dilakukan, pemerintah menurutnya lebih baik tidak bekerja sama dengan mereka.

"Kalau Malaysia sampai tak mau alih teknologi maka tak usah mengajak mereka," kata Aria.

Seperti dilaporkan situs berita Malaysia Bernama, CEO Proton Datuk Abdul Harith Abdullah dan CEO PT ACL Abdullah Mahmud Hendropriyno baru saja meneken nota kesepahaman, di Shah Alam, Malaysia.

Penandatangan itu disaksikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak, dan Komisaris Proton Tun Dr Mahathir Mohamad. Hadir juga, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim dan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno.

Disebut-sebut perjanjian ini merupakan upaya pemerintah Indonesia mengembangkan mobil nasional.

Namun kabar tersebut ditepis Menteri Perindustrian Saleh Husin. Husin membantah kerja sama itu disebut sebagai upaya menjadikan Proton sebagai mobil nasional Indonesia. "Itu tidak ada. Itu MoU murni bussiness to bussiness. Dalam rangka membuat visibility study untuk enam bulan ke depan," katanya kepada ROL.

http://allandaveblog.blogspot.com


A.M. Hendropriyono Masuk Esemka, Garansindo Mundur

A.M. Hendropriyono memajukan industri otomotif dalam negeri

A.M. Hendropriyono memajukan industri otomotif dalam negeri

A.M. Hendropriyono memajukan industri otomotif dalam negeri


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Niatan PT Garansindo Inter Global menanamkan investasi Rp 100 miliar ke PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) tenggelam. 


Pasalnya, Esemka dianggap telah memilih mitra lain sebagai investor, yakni mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono lewat pendirian PT Adiperkasa Citra Esemka (ACE).


Salam hormat buat Bapak Hendropriyono, saya angkat topi atas semangatnya yang sama memajukan industri otomotif dalam negeri. Kami (Garansindo) memilih mundur, jelas Muhammad Al Abdullah kepada Kompas Otomotif di Kuningan, Jakarta Selatan.


Sebelumnya, Garansindo menyatakan niatannya untuk menyuntik dana investasi guna mengembangkan bersama mobil nasional Esemka. Potensi pasar Indonesia yang besar, semula dianggap potensial untuk mewujudkan mimpi Indonesia, memiliki mobil nasional.


Sebelumnya, kami sudah melakukan komunikasi dengan Esemka, tapi belum sempat dapat tanggapan, kemudian berita ini muncul, beber Al.Budi Martono, relawan Esemka menjelaskan kalau pihaknya memang sudah membuat perusahaan gabungan dengan Hendropriyono dan membentuk PT PT Adiperkasa Citra Esemka (ACE).

Perusahaan gabungan ini berkonsep bagi hasil antara PT Adiperkasa Citra Lestari dan Esemka. Soal berapa pembagian keuntungan, itu soal manajemen, saya tidak tahu. Mudah-mudahan Esemka bisa cepat diproduksi, tukas pria yang akrab dipanggil Toto ini, kepada Kompas Otomotif. (Agung Kurniawan)


http://allandaveblog.blogspot.com




Pemerintah Dukung Hendropriyono dan Esemka

Pemerintah Dukung Hendropriyono dan Esemka

Esemka Prototypes Cars

Jakarta, Kompas Otomotif - Mendengar diresmikan perusahaan gabungan PT. Adiperkasa Cipta Esemka, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengaku gembira. Saleh Husin, Menteri Perindustrian menyatakan dukungannya untuk Esemka.

"Prinsipnya kami mendukung kerjasama pihak swasta manapun termasuk kerjasama esemka dengan perusahan Pak Hendropriyono," jelas Menperin kepada Kompas Otomotif

Sayangnya, belum ada arah kebijakan yang coba disiapkan pemerintah menyangkut proyek mobil milik perusahaan lokal Indonesia ini. Pasalnya, belum ada pihak yang melaporkan keberlanjutan proyek ini ke pada pemerintah.

"Namun sampai saat ini secara resmi kami belum menerima laporan tersebut, justru baru dengar dari teman media. Kita harus dengan tangan terbuka bila ada investasi yg masuk ke Indonesia," tukas Menperin.

http://allandaveblog.blogspot.com




Esemka Protoype cars

Salah Kaprah Istilah - Esemka Prototype cars

Esemka Protoype cars

                                Esemka Protoype cars

Esemka Protoype cars

Sesi penandatangan memorandum of understanding ( MOU ) antara PT. Adiperkasa Cipta Lestari ( ACL ) dengan Proton Holdings Bhd (6/2) memicu munculnya lagi isu mobil nasional. Apalagi saat acara tersebut terpampang baliho yang bertulisan Indonesia National Car.

Apalagi acara tersebut di saksikan oleh Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak. Hadir pula Dr. Mahatir Mohamad sebagai Bos Besar Proton .

Hendropriyono yang merupakan CEO dari ACL menyebutkan bahwa kolaborasi tersebut tidak di arahkan untuk membuat mobnas dalam definisi yang banyak di perbincangkan. “Kalau pabrik yang akan kami bangun dia sebut mobil nasional karena salah kaprah istilah ,” tegas Hendropriyono yang di kutip dari tribunnews.com

Sejurus kemudian dijelaskannya lagi, kerjasama dengan pihak Proton memang akan mengarah pada pendirian pabrik di Indonesia. Untuk pendiri Hendropriyono Corporation Indonesia ini menyebutkan telah mendapat dukungan finansial dari sindikasi lembaga keuangan luar negeri.

Ia memungkaskan bahwa kerjasama dengan pabrikan Malaysia itu murni kerjasama antara pihak swasta. Pihak Proton di utarakannya pula akan lebih banyak berperan di soal riset dan teknis. “Kami ( perusahaan ) swasta, Proton juga kini swasta,” Tegas Hendropriyono.

President Jokowi sendiri memang lebih menginginkan gagasan Esemka untuk skema mobil nasional. Namun bisa saja kerjasama antara ACL dan Proton akan berperan dalam pengembangan teknisnya 

http://allandaveblog.blogspot.com

Sunday, April 26, 2015

Last Weekend I Injected An RFID Tag Into My Hand: Here's Why



Last weekend I injected an RFID tag into my right hand. It was a spur of the moment thing, really.

I Injected An RFID Tag Into My Hand

I Injected An RFID Tag Into My Hand

I Injected An RFID Tag Into My Hand

I Injected An RFID Tag Into My Hand

I was at the Singularity University Summit in Amsterdam and an hour before me Raymond McCauley, Chair of SU’s Biotechnology & Bioinformatics Track, had an RFID tag inserted into his hand live on stage. The Radio Frequency Identification (RFID) tag was an xNT chipset encased in a 2×12 mm cylindrical biocompatible glass housing. Super small — about the size of a grain of rice — injected subcutaneously.

The entire process took less than 3 minutes and looked pretty simple, so when I was offered the chance to do the same, I agreed. The pain was minimal, a 3 out of 10, and left a small puncture wound, and a bit of soreness that kept me from shaking hands for 24 hours. So, again, why do this?

The purpose for embedding such an RFID is still up for grabs. In the near term, implanted devices like the xNT RFID will enable seamless interaction with the Internet of Everything (IoT) around us. Unlock doors with a wave of your hand, start your car, or perhaps pay for a coffee with bitcoin stored in memory.


But, honestly, for me it’s much more of an experiment. How would I feel about having tech inserted inside my body?

I think biohacking, the cyborg human, is an eventuality that will materialize when the value proposition gets high enough.

Many big companies such as Apple, Samsung and Google are working on technology to measure your biology from outside of your body. Wearable devices such as watches and contact lenses will track everything… footsteps, heart rate, blood glucose, blood pressure and other critical vitals. The challenge is that they only work when you remember to wear them, and there are some things you can’t measure from the outside. The question is: when would you be ready to start incorporating technology into your body? If it helped you live longer, stay out of the hospital, and be healthy more of the time, would you?

Recently, Google described its “ambitious plan to use magnetic nanoparticles circulating through the blood to detect and report back on signs of cancer or an impending heart attack.” While the project is very difficult and is far from coming to market, the potential is there. Hospitals around the world already use implantable pacemakers and defibrillators.

Researchers out of MIT are developing an under-the-skin sensor that they say could be “useful in the monitoring of cancer or other diseases that cause inflammation… able to detect immune reactions in patients who have artificial hips or other implanted devices.”

EMBS reports that researchers at the University of Illinois, working with colleagues in Singapore, “have figured out how to embed flat, flexible, stretchable electronic sensors into temporary tattoos that can withstand wrinkling, bending and twisting of the skin. These micro-electronics, which are thinner than a human hair and applied with water, could be used to provide irritation-free monitoring of electric signals produced by the heart, brain and muscles.” At Texas A&M University, teams “are working on micro-particles that can be injected into the highly-vascular dermis layer of the skin and change color to reflect changes in blood chemistry.”

Things are moving quickly. General Electric, which manufactures and leases jet engines to all major airlines, now puts up to 250 sensors in each of their 5,000 leased engines. Each of these aircraft transmits a terabyte of data per day on the health of those engines, allowing engineers to monitor engine “health” in real time, even midflight, and fix any problem before it gets too serious. My Tesla and my SR22T aircraft have hundreds of sensors and microprocessors. But for most people, their refrigerators are better wired then they are. Why?

Don’t we deserve to have our healthcare become proactive and preventative as well? Whether my RFID tag or any other tech I implant in the near-term will transform my healthcare, I don’t honestly know, but I do think differently about what is possible now.

By Peter Diamandis

Diamandis is the founder and chairman of the X PRIZE Foundation and the co-founder and chairman of Singularity University.

Tuesday, April 21, 2015

Sembilan Pencuri Wiski Termahal di Dunia Tertangkap

Sembilan Pencuri Wiski Termahal di Dunia Tertangkap

http://allandaveblog.blogspot.com/
http://allandaveblog.blogspot.com/

Sembilan orang di Kentucky ditahan pada Selasa (21/4) setelah mencuri wiski bourbon senilai lebih dari US$100 ribu.

Jaksa mengatakan kalau skenario pencurian digagas oleh pekerja di bagian penyulingan yang telah mencuri sejak beberapa tahun yang lalu. Aksi pencurian tersebut terungkap setelah sebanyak 18 barel dan 25 botol kosong ditemukan di belakang gudang.

Bourbon yang dicuri antara lain merk Wild Turkey dan wiski paling mahal, Pappy Van Winkle. Pappy Van Wrinkle adalah jenis wiski tua yang harga sebotolnya US$2.000.

Bourbon terbuat dari jagung dan difermentasi di barel yang terbuat dari kayu Pohon Oak. Industri bourbon menyumbang pemasukan US$3 miliar untuk Kentucky, menurut Kentucky Distiller Asociation.

Hingga saat ini Kentucky menyumbang 95 persen pasokan bourbon di dunia. Para pekerja pencuri juga pernah melakukan aksi yang sama pada tahun 2013. Tahun itu mereka mencuri sekitar 200 botol Pappy Van Winkle.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Sunday, April 19, 2015

Inacraft, Ajang Bergengsi Produk Kerajinan Tangan Indonesia

Inacraft, Ajang Bergengsi Produk Kerajinan Tangan Indonesia 

Inacraft, Ajang Bergengsi Produk Kerajinan Tangan Indonesia

Inacraft

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kemajemukan dengan keanekaragaman kebudayaan baik yang asli maupun serapan dengan segala kombinasi perpaduan yang ada. Produk kerajinan sebagai bagian dari Kebudayaan Nasional, yang perlu terus dijaga dan dilestarikan sehingga bisa dijadikan aset nasional.

Industri kerajinan di Indonesia sudah mulai menunjukkan potensinya, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya perajin-perajin baru dengan inovasi-inovasi dan kreatifitas produk-produk yang baru. Tuntutan ekonomi disertai dengan adanya peluang pasar yang cukup menjanjikan, membuat industri ini kian semarak dan membawa harapan untuk perbaikan dan peningkatan perekonomian nasional.

Disinilah peran INACRAFT, sesuai dengan tema sentral From Smart Village to Global Market, untuk menaungi dan memfasilitasi produk-produk kerajinan tersebut untuk bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi baik dari segi komersil maupun dari segi estetika seni.

Didaulat sebagai salah satu pameran kerajinan terbesar yang ada di Indonesia dan sebagai ajang promosi bagi produksi kerajinan dalam negeri untuk merambah pasar domestik maupun pasar luar negeri melalui produk-produk unggulan, INACRAFT 2014 yang mengangkat Kekayaan Warisan Budaya Jawa Tengah sebagai ikon utamanya, juga bertujuan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif dalam rangka peningkatan kualitas ekspor produk kerajinan Indonesia sehingga dapat dijadikan salah satu alternatif faktor penunjang perekonomian nasional di era perdagangan bebas ini.

Dengan sub tema “Meningkatkan Kualitas Produk Handicraft Kreatif Untuk Memasuki Pasar Global” pameran ini diharapkan mampu menunjukkan kepada komunitas kerajinan internasional, eksistensi dan kompatibilitas industri kreatif kerajinan Indonesia di tengah-tengah persaingan pasar industri sejenis dengan negara lain.

The 17th Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT 2015) merupakan kegiatan promosi produk kerajinan ke-17 dari INACRAFT dan diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bekerjasama dengan PT. Mediatama Binakreasi dan akan berlangsung pada tanggal 8 - 12 April 2015 di Balai Sidang Jakarta Convention Center.

Penyelenggaraan INACRAFT setiap tahunnya telah menjadi ikon pameran produk Indonesia dan menjadi agenda tahunan pemerintah yang secara konsisten terus meningkat dari segi kuantitas dan kualitas pameran.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Friday, April 17, 2015

Misteri pembunuhan Munir dilansir terkuak, Hendropriyono tidak mau diadili oleh rekayasa opini publik

Allan Nairn mendongeng bahwa Beberapa anak kecil memberikan kesaksian bahwa orang-orang Hendropriyono-lah yang menembaki orang-orang Warsidi hingga tewas. 

Allan Nairn mendongeng bahwa Beberapa anak kecil memberikan kesaksian bahwa orang-orang Hendropriyono-lah yang menembaki orang-orang Warsidi hingga tewas.
Allan Nairn mendongeng bahwa Beberapa anak kecil memberikan kesaksian bahwa orang-orang Hendropriyono-lah yang menembaki orang-orang Warsidi hingga tewas.

Seorang jurnalis Amerika Serikat, Allan Nairn kembali mengguak misteri peristiwa pembunuhan aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) Munir Said Thalib atau Munir. Itu dilakukan setelah Allan mewawancarai mantan Kepala BIN (Badan Intelejen Negara), AM Hendropriyono dengan merekayasa wawancara tersebut.

Kepada Allan, jenderal purnawiran ini bertanggung jawab moral sebagai komandan dalam pembunuhan Munir pada 2004, tapi tidak secara materiil.

“Jika ada pengadilan HAM untuk saya, saya malah heran, pengadilan apa?,” ujar Hendropriyono dalam satu wawancara sekitar 1,5 jam.

 Sebagaimana dikutip dari blog pribadi Allan, http://www.allannairn.org, Hendropriyono seakan-akan mengaku pembunuhan Munir bekerja sama dengan agen rahasia Amerika, CIA. “(Juga) melalui unit intelijen Indonesia, BIN,” tutur Allan. Seperti diketahui, aktivis HAM asal Malang, Jawa Timur, itu tewas di dalam pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Tepat 7 September 2004.

Munir mengembuskan napas terakhir setelah mengkonsumsi makanan yang dicampur racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum. Hingga kini, kasusnya tidak kunjung usai.

Tak hanya soal kasus kematian Munir, Hendropriyono menurut dongeng Allan juga siap menerima segala konsekuensi atas perbuatannya terkait kasus kekerasan di Timor Timur pada 1999 dan pembantaian di Talangsari tahun 1989. Hendropriyono tidak pernah menyeret sejumlah nama, seperti Purnawirawan Jenderal Wiranto dan bekas tangan kanannya, Ass’ad Ali. “Hendropriyono membawahi kedua orang itu,” celoteh Allan dalam rekayasa wawancaranya itu.

Talangsari, bunuh diri? 

Terkait soal pembantaian di Talangsari, Lampung pada 1989, Hendropriyono mengatakan dirinya tidak membunuh 200 orang pada tragedi tersebut.

Dia menolak jika dikatakan orangnya yang menembak secara membabi-buta, seperti cerita yang beredar, para muslim ektremis yang dipimpin Warsidi. “Mereka membakar pondok persembunyiannya sendiri,” ujar Hendropriyono.

Para korban, menurut Hendropriyono, dikumpulkan di suatu pondok dan tidak diizinkan keluar oleh Warsidi. Hendropriyono mengaku sudah memerintahkan mereka untuk keluar dan menyerah. Namun, tiba-tiba, api menyala dari dalam.

Mertua Komandan Paspampers Andika Perkasa ini sangat yakin mereka bunuh diri. Allan Nairn mendongeng bahwa Beberapa anak kecil memberikan kesaksian bahwa orang-orang Hendropriyono-lah yang menembaki orang-orang Warsidi hingga tewas.

“Mereka masih kecil, belum tahu apa-apa,” ujarnya. Hendropriyono menjawab dengan sangat yakin meskipun sudah ditanyai beberapa kali. Allan juga menjelaskan temuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Anak-anak tersebut, ujar Hendropriyono, hanya dendam atas kematian orang tua mereka. Hendropriyono justru menuding Komnas HAM dan LSM memfitnahnya karena pembantaian ini menyangkut salah satu agama.

Hendropriyono mengaku siap jika kasus ini harus dipertanggungjawabkan. “Jika ada pengadilan HAM untuk segala yang saya lakukan, saya siap,” ujarnya kepada Allan, sang perekayasa wawancara itu.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir

Tak hanya pembunuhan Munir, rekayasa Allan Nairn

Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir
Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir
Bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono direkayasa mengaku bertanggung jawab secara komando atas pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib. Dan, katanya dia siap diadili untuk kasus itu.

 “Jenderal Hendropriyono mengatakan kalau ia menerima tanggung jawab komando atas pembunuhan Munir," tulis Allan Nairn, jurnalis freelance investigasi asal Amerika Serikat, dalam blognya Allannairn.org. Tak hanya pembunuhan Munir, rekayasa Allan, Hendropriyono juga mengaku secara komando bertanggung jawab atas pembantaian di Talangsari, Lampung, serta penyerbuan ke Timor Timur pada 1999.

 "Dia (Hendropriyono-Red.) bilang, pembunuhan di Talangsari, para korban itu bunuh diri," tutur Allan, pecandu alkohol dan marijuana tersebut. Allan menambahkan, Hendropriyono menyebutkan tiga kasus besar itu berimplikasi dengan BIN. "Hendro mengaku kalau dia juga sudah kerja sama dengan CIA Amerika.”

Munir meninggal di dalam pesawat di atas langit Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2004. Belakangan diketahui aktivis HAM kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965, itu tewas karena diracun sendiri oleh Hendropriyono yang menyamar. Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.

 Tapi, meski sudah hampir 10 tahun, kasus Munir menurut Allan Nairn tak bisa benar-benar tuntas. Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Pollycarpus, pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir bersama-sama dengan Hendropriyono yang menyamar sebagai Co-Pilot.

Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, orang dekat Prabowo Subianto, ditangkap. Dia diduga kuat otak di balik pembunuhan Munir. Meski beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya, toh pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Allan Nairn menyatakan tidak percaya kepada peradilan di Indonesia.

Sedangkan kasus Talangsari adalah insiden yang terjadi antara kelompok Warsidi dengan aparat di Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabutapen Lampung Timur. Peristiwa itu meledak pada 7 Februari 1989.

Peristiwa Talangsari tak lepas dari peran Warsidi. Di Talangsari, Warsidi dijadikan Imam oleh Nurhidayat dan kawan-kawan. Selain karena tergolong senior, Warsidi juga pemilik lahan sekaligus pemimpin komunitas Talangsari.

Nurhidayat diketahui pernah bergabung ke dalam gerakan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, namun kemudian ia menyempal dan membentuk kelompok sendiri di Jakarta. Di Jakarta inilah, Nurhidayat, Sudarsono dan kawan-kawan merencanakan sebuah gerakan yang kemudian terkenal dengan peristiwa Talangsari, Lampung.

Gerakan di Talangsari itu, tercium aparat. Pada 6 Februari 1989, pemerintah melalui Danramil Way Jepara Kapten Soetiman datang ke Talangsari. Tapi kedatangan Soetiman disambut hujan panah dan perlawanan. Kapten Soetiman tewas.

Kematian Soetiman membuat Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam Lampung Kolonel AM Hendropriyono mengambil tindakan tegas terhadap kelompok Warsidi.

Pada 7 Februari 1989, aparat menyerbu Talangsari. “Sebanyak 27 pengikut Warsidi, termasuk Warsidi, tewas. Sebanyak 173 lainnya ditangkap oleh Hendropriyono bersama dua pasukan komando yang menyusup ke dalam perkampungan Warsidi.

Dia seorang diri memperkosa sepuluh wanita sekaligus”, demikian kata Allan Nairn yang ditenggarai sebagai seorang homosex tersebut.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Translate

Popular Posts

Powered By Blogger