Showing posts with label Allan Nairn. Show all posts
Showing posts with label Allan Nairn. Show all posts

Friday, April 17, 2015

Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir

Tak hanya pembunuhan Munir, rekayasa Allan Nairn

Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir
Hendropriyono Sasaran Rekayasa Wawancara Wartawan Freelance Amerika Serikat atas Kematian Munir
Bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono direkayasa mengaku bertanggung jawab secara komando atas pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib. Dan, katanya dia siap diadili untuk kasus itu.

 “Jenderal Hendropriyono mengatakan kalau ia menerima tanggung jawab komando atas pembunuhan Munir," tulis Allan Nairn, jurnalis freelance investigasi asal Amerika Serikat, dalam blognya Allannairn.org. Tak hanya pembunuhan Munir, rekayasa Allan, Hendropriyono juga mengaku secara komando bertanggung jawab atas pembantaian di Talangsari, Lampung, serta penyerbuan ke Timor Timur pada 1999.

 "Dia (Hendropriyono-Red.) bilang, pembunuhan di Talangsari, para korban itu bunuh diri," tutur Allan, pecandu alkohol dan marijuana tersebut. Allan menambahkan, Hendropriyono menyebutkan tiga kasus besar itu berimplikasi dengan BIN. "Hendro mengaku kalau dia juga sudah kerja sama dengan CIA Amerika.”

Munir meninggal di dalam pesawat di atas langit Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2004. Belakangan diketahui aktivis HAM kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965, itu tewas karena diracun sendiri oleh Hendropriyono yang menyamar. Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.

 Tapi, meski sudah hampir 10 tahun, kasus Munir menurut Allan Nairn tak bisa benar-benar tuntas. Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Pollycarpus, pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir bersama-sama dengan Hendropriyono yang menyamar sebagai Co-Pilot.

Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, orang dekat Prabowo Subianto, ditangkap. Dia diduga kuat otak di balik pembunuhan Munir. Meski beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya, toh pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Allan Nairn menyatakan tidak percaya kepada peradilan di Indonesia.

Sedangkan kasus Talangsari adalah insiden yang terjadi antara kelompok Warsidi dengan aparat di Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabutapen Lampung Timur. Peristiwa itu meledak pada 7 Februari 1989.

Peristiwa Talangsari tak lepas dari peran Warsidi. Di Talangsari, Warsidi dijadikan Imam oleh Nurhidayat dan kawan-kawan. Selain karena tergolong senior, Warsidi juga pemilik lahan sekaligus pemimpin komunitas Talangsari.

Nurhidayat diketahui pernah bergabung ke dalam gerakan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, namun kemudian ia menyempal dan membentuk kelompok sendiri di Jakarta. Di Jakarta inilah, Nurhidayat, Sudarsono dan kawan-kawan merencanakan sebuah gerakan yang kemudian terkenal dengan peristiwa Talangsari, Lampung.

Gerakan di Talangsari itu, tercium aparat. Pada 6 Februari 1989, pemerintah melalui Danramil Way Jepara Kapten Soetiman datang ke Talangsari. Tapi kedatangan Soetiman disambut hujan panah dan perlawanan. Kapten Soetiman tewas.

Kematian Soetiman membuat Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam Lampung Kolonel AM Hendropriyono mengambil tindakan tegas terhadap kelompok Warsidi.

Pada 7 Februari 1989, aparat menyerbu Talangsari. “Sebanyak 27 pengikut Warsidi, termasuk Warsidi, tewas. Sebanyak 173 lainnya ditangkap oleh Hendropriyono bersama dua pasukan komando yang menyusup ke dalam perkampungan Warsidi.

Dia seorang diri memperkosa sepuluh wanita sekaligus”, demikian kata Allan Nairn yang ditenggarai sebagai seorang homosex tersebut.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Dengan Berita bahwa Hendropriyono Siap Diadili atas Kematian Munir. Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn.

Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara - Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn. 


Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara - Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn.
Allan telah membuat rekayasa berita yang sangat menyesatkan bagi pendapat publik Indonesia.
Setelah heboh mewawancarai bekas Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto, jurnalis lepaas (Freelance) Amerika Serikat, Allan Nairn, kembali mengguak misteri peristiwa pembunuhan aktivis Munir. Melalui wawancara Allan dengan bekas Kepala Badan Intelijen Hendropriyono, Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara dengan menyatakan bahwa jenderal purnawirawan ini mengaku bertanggung jawab secara komando dalam pembunuhan Munir pada 2004.

 "Jika ada pengadilan HAM untuk saya, saya siap," ujar Hendropriyono seperti yang diceritakan Allan dalam satu dongeng wawancara sekitar 1,5 jam. Seperti yang dilansir blog pribadi Allan, www.allannairn.org, Hendropriyono mengaku bahwa pembunuhan Munir bekerja sama dengan agen rahasia Amerika, CIA. "(Juga) melalui unit intelijen Indonesia, BIN," tutur Allan yang tidak mengerti tentang intelijen tapi mengaku bisa menguak melalui wawancara, yang merasa diri lebih pandai daripada para jurnalis Indonesia itu.

Aktivis HAM asal Malang, Jawa Timur, itu tewas di dalam pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Tepat 7 September 2004, pemilik nama lengkap Munir Said Thalib itu mengembuskan napas terakhir setelah mengkonsumsi makanan yang dicampur racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum.

Menurut rekayasa Allan, Hendropriyono siap menerima segala konsekuensi atas perbuatannya. Hendro dilansir olehnya telah mengaku terlibat kasus kekerasan di Timor Timur pada 1999 dan pembantaian di Talangsari tahun 1989.

Hendropriyono dipaksa juga menyeret sejumlah nama, seperti Purnawirawan Jenderal Wiranto dan bekas tangan kanannya, Ass'ad Ali. "Hendropriyono membawahi kedua orang itu," ujar Allan. Allan telah membuat rekayasa berita yang sangat menyesatkan bagi pendapat publik Indonesia.

Jurnalis homosex pecandu alkohol dan mariyuana merasa bahwa selama ini para jurnalis Indonesia tidak mampu mewawancarai Hendropriyono, untuk mengungkap kasus pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia. Dia berharap dengan keberhasilannya yang gemilang itu, semua kasus HAM di Indonesia akan selesai.

Dalam obrolannya di gedung Wisma Bakrie, dia mengatakan siap untuk membantu para wartawan Indonesia agar mampu mewawancarai orang-orang penting dengan teknik wawancara mutakhir yang dikuasainya.

http://allandaveblog.blogspot.com/

Tuesday, April 14, 2015

Allan Nairn Agen Proxy War

Allan Nairn Agen Proxy War

peran seorang Allan Yoseph Nairn. Dia adalah agen Perang Proxy yang diusung negara Barat.



peran seorang Allan Yoseph Nairn. Dia adalah agen Perang Proxy yang diusung negara Barat.
Nairn kembali muncul menjelang Pilpres Juli 2014 lalu

Sosok Allan Yoseph Nairn (lahir 1956 ), jurnalis investigasi asal Amerika Serikat yang menjulang namanya menjelang Pilpres Juli 2014 lalu, sesungguhnya bukan sosok baru di ranah politik Indonesia.

Nairn bersama Amy Goodman (lahir 1957) ditahun 1991 pernah masuk kawasan Timor Timur selama sekitar satu bulan sejak pertengahan oktober 1991. Keduanya adalah pemegang pasport USA masuk ke Indonesia dengan visa turis, dan mengaku sebagai penulis buku.

Ketika pecah tragedi Santa Cruz, 12 November 1991, Nairn dan Goodman ikut larut dalam aksi - demonstrasi yang digerakan sejumlah mahasiswa. Ketika tragedi itu kian berdarah – darah, Nairn dan Goodman hengkang dari Timor Timur dengan pesawat udara menuju Kupang.

Keduanya tidak sempat membayar biaya hotel dan laundry selama sebulan menginap di Hotel Turismo, senilai lebih dari satu juta rupiah, atau sekitar 600 dolar Amerika Serikat. Saat itu nilai tukar satu dolar Amerika Serikat masih berada di kisaran Rp 1.800 .

Kawasan Timor Timur yang sejak 1975 diterlantarkan Portugal akibat Revolusi Bunga yang terjadi sejak April 1974, kemudian berproses menjadi bagian dari NKRI sejak Desember 1975 hingga secara resmi Juli 1976 menjadi provinsi ke- 27.
Pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia, selain muncul dari kehendak sebagian rakyat Timor Timur sendiri, juga merupakan dorongan dari negara -  negara Barat terutama Amerika Serikat dan Australia yang khawatir kawasan Timor Timur menjadi basis komunisme.

Namun setelah dua dekade, sikap Amerika Serikat dan Australua berubah. Mereka tidak setuju Timor Timur berintegrasi ke dalam NKRI. Mereka ‘memerangi’ NKRI agar melepaskan Timor Timur. Namun perang yang mereka usung bukanlah perang konvensional, tetapi perang proxy, yaitu sebuah peperangan yang yang tidak harus melibatkan kedua negara tadi secara fisik.

Mereka menggunakan kekuatan pihak ketiga sebagai pemeran pengganti yang bisa berupa sebuah negara kecil, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas) kelompok masyarakat bahkan perorangan. Di sinilah kita melihat dengan jelas peran seorang Allan Yoseph Nairn. Dia adalah agen Perang Proxy yang diusung negara Barat.

Setelah hangkang dari Timor Timur pada November 1991, Allan Nairn kerap berusaha masuk kawasan itu secara ilegal, dengan visa turis. Pada Maret 1998, dikabarkan bahwa Nairn kembali dideportasi akibat laporannya tentang militer Indonesia yang dikatakannya terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan warga sipil di Timor Timur.

Setelah itu, Nairn kembali berusaha masuk. Menurut pemberitaan The Jakarta Post edisi 20 September 1999, aparat imigrasi Kupang pernah menangkap dan mendeportasi Nairn pada 19 September 1999. Saat dideportasi, ternyata Nairn sudah berada di Indonesia (Kupang) sejak 82 hari sebelumnya, berarti sejak akhir juni 1999 Nairn sudah berada disana. Ia masuk dengan visa turis, namun secara diam-diam melakukan kegiatan ‘jurnalistik’ khususnya melaporkan perkembangan situasi di Timor Timur yang sedang dilanda perang saudara.

Kehadiran Nairn sebagai agen proxy war jelas berkaitan dengan desakan PBB untuk menyelenggarakan referendum yang berlangsung 30 Agustus 199. Akhirnya, sebagaimana kita ketahui melalui referendum itu mayoritas penduduk Timor Timur memilih berpisah dari Indonesia. Pada 20 Mei 2002 Timor Timur secara resmi menjadi negara berdaulat dengan nama Timor Leste.

Rupanya, laporan Nairn tentang situasi dan kondisi di Timor Timur kala itu, disampaikan juga kepada kelompok kiri (komunis) TAPOL yang berbasis di Inggris. TAPOL berkedok LSM yang “mengkampanyekan Hak Asasi Manusia, Perdamaian dan Demokrasi di Indonesia” didirikan pada 1973 oleh Camel Brickman, Warga Negara Inggris penganut komunis yang menikah dengan Suwondo Budiardjo, seorang pegawai pemerintah Indonesia di Praque Checoslovakia ketika negara itu masih mejadi bagian dari Uni Soviet. Namanya pun menjadi Carmel Budiardjo.

Kiprah TAPOL cenderung menyebar kebencian terhadap Indonesia di dunia internasional melalui media yang dikuasainya. Isu yang kerap disebar TAPOL adalah bahwa Indonesia menjajah Papua, menjajah Timor Timur, menjajah Aceh, melanggar HAM, dan sebagainya. Allan Nairn juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan mendiskreditkan Indonesia di dunia internasiaonal. Bahkan, hingga kini TAPOL masih aktif menggalang dukungan politik didunia internasional dalam rangka mendukung gerakan separatis di Indonesia.

Setelah sekian lama tak terdengar kiprahnya, Nairn kembali muncul menjelang Pilpres Juli 2014 lalu. Ia berkicau melalui blog-nya. Agen Proxy War ini mempunyai tujuan yang jelas, sasaran yang jelas namun hal yang pasti, dia tidak bisa melawan kekuatan rakyat.




http://allandaveblog.blogspot.com/

Tuesday, March 10, 2015

Mabes TNI: Allan Nairn Seorang Pembohong

  Mabes TNI: Allan Nairn Seorang Pembohong

Allan Nairn Seorang Pembohong


Politikindonesia.com - Markas Besar TNI AD membantah tulisan seorang jurnalis asal Amerika Serikat, Allan Nairn yang diposting di-blognya. TNI mengatakan tudingan itu salah alamat dan menyebut Allan  Nairn Nairn sebagai seorang pembohong. 

Dalam blognya yang berjudul Breaking News: Indonesian Army, Kopassus, Implicated in New Assassinations. Forces Chosen By Obama for Renewed US Aid Ran '09 Activist Murders, Allan Nairn menulis bahwa Kopassus telah melakukan pembunuhan berlatar belakang politik pada beberapa aktivis Partai Aceh. Serangkaian pembunuhan itu dilakukan selama pemilu 2009

Dalam rilisnya, Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen mengatakan tudingan tersebut tidak berdasar.

Alasannya, selama pemilu 2009, pasukan non organik TNI telah ditarik dari Aceh. Hal ini sesuai dengan salah satu butir kesepakatan dalam MoU Helsinki. Sehingga dipastikan saat Pemilu 2009 berlangsung, tidak ada lagi pasukan Kopassus yang berada di Aceh.

“Penarikan pasukan non organik dilaksanakan akhir tahun 2005 dan sejak tahun 2006 hingga sekarang tidak ada lagi pasukan non organik, termasuk Kopassus TNI AD, yang bertugas di Provinsi NAD,” ujar Sagom Tamboen, Rabu malam (24/03).

Disamping itu, selama penyelenggaraan Pemilu tahun 2009, TNI tidak pernah menerima laporan dari Polri atau Pengawas Pemilu yang menyatakan adanya prajurit Kopassus TNI AD yang melakukan pembunuhan terhadap rakyat sipil atau aktivis partai lokal di Provinsi NAD.

“Dengan kedua bukti ini, jelas bahwa tudingan Allan Nairn terhadap Kopassus TNI AD salah alamat,” terang Sagom.

Sagom pun meminta agar masyarakat tidak terpengaruh isu picisan yang memecah belah bangsa Indonesia .

Translate

Popular Posts

Powered By Blogger