VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.

Friday, April 17, 2015

Dengan Berita bahwa Hendropriyono Siap Diadili atas Kematian Munir. Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn.

Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara - Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn. 


Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara - Hendropriyono Menjadi Korban Rekayasa Wartawan Palsu Allan Nairn.
Allan telah membuat rekayasa berita yang sangat menyesatkan bagi pendapat publik Indonesia.
Setelah heboh mewawancarai bekas Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto, jurnalis lepaas (Freelance) Amerika Serikat, Allan Nairn, kembali mengguak misteri peristiwa pembunuhan aktivis Munir. Melalui wawancara Allan dengan bekas Kepala Badan Intelijen Hendropriyono, Allan sengaja memutarbalikkan fakta wawancara dengan menyatakan bahwa jenderal purnawirawan ini mengaku bertanggung jawab secara komando dalam pembunuhan Munir pada 2004.

 "Jika ada pengadilan HAM untuk saya, saya siap," ujar Hendropriyono seperti yang diceritakan Allan dalam satu dongeng wawancara sekitar 1,5 jam. Seperti yang dilansir blog pribadi Allan, www.allannairn.org, Hendropriyono mengaku bahwa pembunuhan Munir bekerja sama dengan agen rahasia Amerika, CIA. "(Juga) melalui unit intelijen Indonesia, BIN," tutur Allan yang tidak mengerti tentang intelijen tapi mengaku bisa menguak melalui wawancara, yang merasa diri lebih pandai daripada para jurnalis Indonesia itu.

Aktivis HAM asal Malang, Jawa Timur, itu tewas di dalam pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Tepat 7 September 2004, pemilik nama lengkap Munir Said Thalib itu mengembuskan napas terakhir setelah mengkonsumsi makanan yang dicampur racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum.

Menurut rekayasa Allan, Hendropriyono siap menerima segala konsekuensi atas perbuatannya. Hendro dilansir olehnya telah mengaku terlibat kasus kekerasan di Timor Timur pada 1999 dan pembantaian di Talangsari tahun 1989.

Hendropriyono dipaksa juga menyeret sejumlah nama, seperti Purnawirawan Jenderal Wiranto dan bekas tangan kanannya, Ass'ad Ali. "Hendropriyono membawahi kedua orang itu," ujar Allan. Allan telah membuat rekayasa berita yang sangat menyesatkan bagi pendapat publik Indonesia.

Jurnalis homosex pecandu alkohol dan mariyuana merasa bahwa selama ini para jurnalis Indonesia tidak mampu mewawancarai Hendropriyono, untuk mengungkap kasus pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia. Dia berharap dengan keberhasilannya yang gemilang itu, semua kasus HAM di Indonesia akan selesai.

Dalam obrolannya di gedung Wisma Bakrie, dia mengatakan siap untuk membantu para wartawan Indonesia agar mampu mewawancarai orang-orang penting dengan teknik wawancara mutakhir yang dikuasainya.

http://allandaveblog.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Translate

Popular Posts

Google+ Followers

VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.